Selasa, 27 Februari 2007 16:07:11 WIB
Kategori : Propaganda Sesat

… halaman ke-2
B. PEMBAHASAN HADITS [4]
Ketahuilah, hadits ini shahih dengan tiada keraguan di dalamnya, diriwayatkan dari banyak sahabat, di antaranya Abu Dzar, Abdullah bin Mughaffal, Ibnu Abbas, Abu Hurairah[5] dan sebagainya. Berikut beberapa riwayat mereka:
Hadits Pertama:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, `Shalat seorang batal apabila lewat di depannya seorang wanita, himar, dan anjing. Dan yang menjaga shalatnya adalah sutrah seukuran kayu yang terletak di belakang kendaraan (satu hasta). " [Diriwayatkan Imam Muslim 511, Ibnu Majah 950]
Hadits Kedua:
Dari Abu Dzar Radhiyallahu’anhu berkata, "Rasulullah bersabda, `Apabila seorang di antara kalian shalat, maka sutrahnya adalah apabila di depannya semisal kayu yang terletak di belakang kendaraan. Dan apabila tidak ada di depannya semisal kayu yang terletak di belakang kendaraan, maka shalatnya akan terpotong oleh himar, wanita, dan anjing hitam. ‘Saya bertanya, ‘Wahai Abu Dzar, mengapa harus anjing hitam, bukan anjing merah dan kuning?’ Abu Dzar menjawab, `Wahai anak saudaraku, saya telah bertanya kepada Rasulullah sebagaimana pertanyaanmu tadi, lalu jawab beliau, `Anjing hitam itu adalah setan. "’ [Diriwayatkan Imam Muslim 510, Ahmad 5/ 149, 155, 156, 161, Abu Dawud 702, Nasa'i 2/63, 64, Tirmidzi 338, Ibnu Majah 952, Thabrani dalam Mu'jam ash-Shaghir 195, 505,1161 dan Mu'jam al-Kabir 1632,1635,1636, Ibnu Khuzaimah 830, Darimi 1/329, Ibnu Hibban 8383, 3385, 3388, Abdur Razzaq 4348, Thahawi 1/458, Abu Awanah 2/46, 47) Imam Baihaqi berkata dalam Sunan Kubra (2/274) tentang hadits ini, "Kita berhujjah dengan sanad seperti hadits ini, dan hadits ini memiliki syahid yang shahih sepertinya]"
Hadits Ketiga:
Dari Abdullah bin Mughaffal dari Nabi bersabda, "Shalat seorang batal bila lewat di depannya wanita, anjing, dan khimar." [Diriwayatkan Ibnu Majah 951, Ahmad 4/86, 5/57, Thahawi 1/458.Seluruh perawinya terpercaya, hanya saja dalam sanadnya terdapat `an`anah Hasan]
Hadits Keempat:
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu dari Nabi bersabda, "Shalat seorang batal bila lewat di depannya anjing hitam dan wanita baligh. " [Diriwayatkan Abu Dawud 703, Nasa'i 2/ 64, Ibnu Majah 949, Ahmad 1/347, Ibnu Khuzaimah 832, Ibnu Hibban 2387, Baihaqi 2/374. Sanadnya shahih menurut syarat Muslim]
Dalam masalah ini ada beberapa riwayat lainnya dari Aisyah, Hakam bin Amr al-Ghifari, Anas bin Malik, dan Abdullah bin Amr. Lihat Sunan Tirmidzi (2/162), Nailul Authar (3/232).
Demikian pula banyak sekali atsar dari sahabat dan tabi’in yang memperkuat hadits ini, dari Anas, Ibnu Abbas, Zurarah bin Aufa, Abu Hurairah, Abul Ahwash; Makhul, Hasan Bashri, Ikrimah, Atha’, dan sebagainya. [Lihat alMushannaf oleh Ibnu Abi Syaibah 1/281, Ahkam Sutrah oleh Muhammad Rizq Turhuni, 77-78]
C. JAWABAN ATAS KERANCUAN
Adapun ucapan Ulil -semoga Alloh memberinya hidayah-, "Bagaimana anda bisa membayangkan agama Islam yang kita hargai ini mengatakan shalat kita batal kalau di depan kita lewat perempuan, anjing, atau himar. Perempuan disetarakan dengan anjing dan himar saudara- saudara!" Maka jawabannya dalam beberapa point sebagai berikut:
[1]. Beda Ahli Sunnah Dengan Ahli Filsafat
Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana orang seperti Ulil menolak hadits Rasulullah berdasarkan dalil ataukah dengan rasionya?! Seperti inikah sikap seorang muslim terhadap hadits?! Dengan enteng, dia berani mementahkan hadits hanya dengan ucapan "Menurutku"?! Apakah sikap seperti ini termasuk adab, wahai hamba Alloh?!
Imam Ibnul Qayyim berkata, "Termasuk adab terhadap Nabi adalah dengan tidak mempermasalahkan sabda beliau tetapi mempermasalahkan pendapat, tidak menentang sabda beliau dengan analogi tetapi semua analogi dilempar karena tunduk terhadap nash, tidak mengubah makna sabda beliau dari hakikat aslinya hanya berdasar pada rasio. Semua ini termasuk kurang adab terhadap beliau dan termasuk kelancangan yang sangat." [Madarijus Salikin 2/ 441-442]
Sepertinya rawi hadits, Abu Hurairah , telah menyindir orang-orang seperti Ulil ini ketika beliau berucap:
Wahai anak saudaraku, apabila kamu mendengar suatu hadits dari Rasulullah maka janganlah engkau membandingkannya dengan membuat permisalan. [Hasan, Riwayat Tirmidzi 79 dan Ibnu Majah 485]
Inilah perbedaan mendasar antara Ahli Sunnah dengan ahli filsafat semacam Ulil.
Imam Ibnu Qayyim berkata, "Mempertentangkan antara akal dengan naql (dalil) merupakan sumber kerusakan di alam semesta. Hal ini sangat berseberangan dengan dakwah para rasul, sebab mereka mengajak umatnya untuk mendahulukan wahyu di atas pendapat dan akal, maka terjadilah pertarungan antara pengikut rasul dan para penentangnya. Para pengikut rasul mendahulukan wahyu di atas pendapat dan akal. Adapun pengikut Iblis dan sejawatnya, mendahulukan akal di atas wahyu." [Mukhtashar Shawa'iq Mursalah 1/209] [6]
[2]. Wanita = Hewan?!
a). Hadits ini bukan berarti celaan kepada kaum wanita atau menyetarakan kaum wanita dengan hewan. Sama sekali tidak! Bagaimana mungkin Nabi yang mulia akan menyetarakan kaum wanita yang berakal lagi rnulia dengan hewan yang tidak memiliki akal.
Jadi, hadits ini hanya mengatakan bahwa shalat seorang itu batal bila lewat di depannya tiga hal; wanita, himar; dan anjing. Tidaklah dikatakan wanita itu setara dengan himar dan anjing. Disetarakannya wanita dengan himar dan anjing dalam suatu hukum tertentu (yakni membatalkan shalat seorang) bukanlah berarti sama dalam segala seginya. Lebih jelasnya, coba anda perhatikan ayat-ayat berikut:
Mereka mengatakan, "Jumlah mereka (ashhabul kahfi) adalah iujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya. " [al-Kahfi : 22]
Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia, dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib. [An-Naml : 17]
Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan sayapnya, melainkan umat-umat juga seperti kamu. [Al-An'am: 38]
Apakah komentar anda tentang ayat-ayat ini?! Apakah anda akan mengingkarinya karena Alloh menyetarakan antara manusia dengan hewan?!
b). Aneh orang ini, dia tidak merasa kalau dirinya terjatuh dalam kontradiksi nyata. Bukankah dia yang sering mengatakan, "Semua agama itu benar dan sama"?! Padahal Alloh telah berfirman:
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab- kitab yang tebal”. [Al-Jumu'ah : 5]
Bila Alloh mengatakan bahwa mereka seperti himar, tetapi mengapa anda menyetarakannya dengan orang-orang Islam dengan ucapan yang sering anda dengung-dengungkan: "Semua Agama Sama"?!
c). Dia ingin menampakkan dirinya sebagai pembela hak dan martabat wanita, namun apa timbangannya?! Islam ataukah barat? Dalam timbangan Ulil, menghargai hak wanita adalah dengan kebebasan, nikah beda agama, dan lainnya. Inikah Islam, wahai hamba Alloh?! Atau inikah makar musuh-musuh Alloh yang engkau kembangkan di Indonesia?! Wahai Alloh, lindungilah manusia dari kejahatannya! !
[3]. Wanita di Saudi Arabia
Ucapan kotor Ulil, "Inilah yang terjadi di Saudi Arabia, negeri Wahabi itu. Karena perempuan dianggap hewan, tidak boleh nyetir mobil. Itulah negeri Saudi Arabia, negeri Wahabi itu, apakah negeri semacam ini akan diikuti saudara saudara? ! "
a). Inikah Adab?
Merupakan taqdir Alloh untuk membongkar kedok kesesatan orang ini, seringnya dia terjatuh dalam kontradiksi. Sungguh saya dibuat tercengang oleh kontradiksinya yang banyak sekali.
Coba bandingkan ucapan di atas dengan ucapannya sendiri tatkala mengkritik Ahli Sunnah, "Saya teringat dengan komentar yang terhormat Dr. Quraish Shihab, beliau mengatakan bahwasanya –dengan penuh penghormatan kepada Pak Hartono dan kawan-kawannya- ada sedikit kekurangan, yaitu adab, tata krama dalam berdebat, menggunakan kata-kata kasar, suka memurtadkan, suka mengkafirkan."
Aneh, apakah anda menganggap bahwa kata-kata anda di atas sesuai dengan adab, tata krama, dan tidak kasar?! Hanya kepada Alloh kita mengadu semua ini.
b). Wanita Nyetir Mobil
Adapun ucapan Ulil "Karena perempuan dianggap hewan, tidak boleh nyetir mobil". Ini juga kontradiksi; sebab larangan nyetir mobil itu untuk menjaga kehormatan wanita. Sekiranya perempuan dianggap hewan oleh Saudi Arabia, tentu akan dibebaskan nyetir mobil seperti keinginan Ulil, yang sebenarnya juga keinginan musuh-musuh Islam?!
Sebenarnya, apa beratnya bagi pemerintah Saudi memberikan kebebasan kaum wanita nyetir mobil. Bukankah itu malah menguntungkan mereka?! Anda bisa membayangkan, entah berapa banyak uang yang mereka keluarkan untuk mengambil sopir-sopir dari luar negeri terbanyak adalah negeri kita Indonesia. Namun, untuk membendung kerusakan yang lebih besar [7], mereka rela mengeluarkan dana yang cukup besar. Tidakkah anda menyadari hal itu?!
c). Keinginan Musuh-Musuh Islam
Orang-orang seperti Ulil ini telah tertipu dengan pemandangan yang ada di negeri kafir barat.
Dia menyangka, dengan kebebasan mengumbar nafsu, manusia akan menjadi mulia. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Syaikh al Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin usai menerangkan tentang masalah nyetir mobil bagi wanita, "Kalau sekiranya celaan ini keluar dari musuh-musuh Islam yang berusaha menghancurkan negeri yang sekarang menjadi benteng Islam ini, maka itu ringan dan tak aneh. Tetapi yang aneh apabila muncul dari orang-orang yang mengaku Islam, yang tertipu dengan kemajuan teknologi negeri-negeri kafir, sehingga merekapun tertipu dengan akhlak yang mengeluarkan mereka dari keutamaan menuju kehinaan. Keadaan mereka ini seperti yang dilukiskan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Nuniyahnya:
Mereka lari dari kebebasan yang merupakan tujuan hidup mereka.
Menuju kebebasan mengikuti hawa nafsu dan setan.
Mereka menyangka bahwa negeri-negeri kafir itu maju disebabkan kebebasan ini. Semua itu tidak lain kecuali karena kejahilan mereka terhadap syari’at Islam dan keindahan keindahan yang tersimpan di dalamnya. Kita memohon kepada Alloh agar memberikan hidayah kepada kita dan mereka semua menuju kebaikan dunia dan akhirat." [Lihat Fiqh Nawazil 3/369]
e). Penghormatan Kepada Kaum Wanita
Kaum wanita adalah makhluk Alloh yang mulia, memiliki kehormatan dan kedudukan yang tinggi dalam Islam. Oleh karenanya, sebagai negeri yang menerapkan syari’at Islam, Saudi Arabia memposisikan wanita dalam posisi yang mulia. Coba perhatikan apa yang dikatakan menteri dalam negeri, Amir Nayif bin Abdul Aziz pada masa Raja Abdul Aziz di kota Riyadh, malam Ahad 21/2/1420 H, "Pemerintah enggan bila wanita dijadikan sebagai barang murahan dan dijadikan bahan pembicaraan. Wanita adalah seorang ibu, saudari, putri, dan istri, semuanya adalah sahabat kita bersama dalam kehidupan ini. Oleh karenanya, kita harus memposisikannya dalam posisi mulia, yang sesuai dengan fithrahnya. Dia memiliki pekerjaan yang berbeda jauh dengan pekerjaan kaum laki-laki, sebagaimana dia diciptakan dengan sangat berbeda dari kaum lelaki. Setiap hal yang menyimpan kebaikan bagi wanita dan masyarakat tidaklah akan bertentangan dengan syari’at." Lanjutnya, "Setiap manusia harus menghormati dirinya dan menghormati kaum wanita, sebab wanita adalah setengah bagian dari kita. Mereka begitu mulia dalam pandangan kami." [Koran al-Jazirah edisi 9748/23/2/1420 H. Dinukil dari buku al-Mar'ah baina Takrimil Islam wa Da'awi Tahrir oleh Muhammad bin Nashir al-Uraini, hal. 49-50]
Saya mencoba berpikir, apa sebabnya Ulil selalu dan selalu memojokkan Saudi Arabia?! Saya membaca bahwa di balik itu ada sebuah tujuan, yaitu Islam. Sebab negara yang satu itu sekarang merupakan benteng Islam. Oleh sebab itu, pembelaan saya bukanlah karena negeri tersebut, tetapi pembelaan terhadap Islam.
f). Bandingkan Dengan Wanita Barat
Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Ulil?! Dia menginginkan kebebasan seperti apa yang dia lihat di negeri negeri kafir barat. Aduhai, tidakkah dia mendengar jeritan para wanita di sana dan pengakuan tulus sebagian mereka tentang keindahan syari’at Islam dan rusaknya kehidupan mereka di balik topeng kebebasan?! Seorang wartawan wanita Amerika yang telah berkelana menjelajahi dunia pernah mengatakan, "Cegahlah campur baur antara pria dan wanita, ikatlah kebebasan wanita, kembalilah ke masa hijab. Hal ini lebih baik bagi kalian daripada kebebasan dan keedanan Eropa dan Amerika. Saya telah banyak menyaksikan banyak hal di Amerika, ternyata bangsa Amerika penuh dengan kebebasan yang mengakibatkan banyak korban."
Wartawan wanita Perancis juga berkata, "Saya mendapati wanita muslimah Arab sangat lebih dihormati di rumahnya daripada wanita Eropa. Dan saya amat yakin bahwa seorang istri dan ibu dari mereka hidup berbahagia melebihi kebahagiaan kami." [Lihat al-Mar'ah baina Takrimil Islam wa Da'awi Tahrir hal. 28029]
Seorang kawanku bercerita bahwa ketika dirinya dulu sekolah di Amerika, sang guru dalam pengajarannya selalu melecehkan Islam dan menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang zhalim terhadap wanita. Suatu saat seorang siswi maju ke depan seraya mengatakan, "Guru kita ini selalu memojokkan Islam dan bahwasanya Islam tidak memberikan keadilan kepada kaum wanita, tetapi saya mendapatkan di Yahoo (sebuah situs terkenal) sensus perceraian di berbagai negara, ternyata perceraian di negara yang menjadi kiblat Islam (Saudi Arabia) paling sedikit jumlahnya dibandingkan negara-negara lainnya, termasuk negeri ini (Amerika). Maka saya menilai bahwa di dalam Islam terdapat undang-undang yang lebih baik daripada undang-undang kita!"
Ucapan tadi langsung disambut tepuk tangan oleh kawan-kawan sekelasnya. Kawanku berkomentar kepada teman muslim lainnya, "Wanita kafir bisa membela Islam, sedangkan kita tidak bisa membela. Sungguh ini suatu hal yang mengherankan!"